Biografi Penulis Tere Liye
- Darwis Tere Liye
Darwis Tere Liye, lahir tanggal 21 Mei 1979. Tere Liye menikah dengan
Ny.Riski Amelia dan di karunia seorang putra bernama Abdullah Pasai.
“Tere Liye” merupakan nama pena yang diambil dari bahasa India dengan
arti : untukmu, untuk-Mu. Tampaknya Tere-Liye tidak ingin dikenal oleh
pembacanya.
Salah satu penulis Favorite mbah Pedia, karya-nya selalu sukses
membuat pembaca merenung, gaya bahasa yang sederhana, mudah dimengerti,
namun terangkai dengan indah adalah kesan yang akan dirasakan setiap
pembaca tulisannya. Dengan kepiawaiannya merangkai kata, cerita, dan
makna tak heran jika hampir seluruh novel Tere Liye sukses meraih Best
Seller.
Hafalan Sholat Delisa, Moga Bunda Disayang Allah, dan Bidadari –
Bidadari Surga adalah beberapa judul novel Tere Liye yang telah sukses
di pasaran, dan telah diangkat menuju Layar Lebar karena keberhasilannya
menggaet hati pembacanya.
Karya-karya Penulis Terkenal Darwis Tere Liye
- Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (Gramedia Pustaka Umum,2010)
- Pukat (Penerbit Republika, 2010)
- Burlian (Penerbit Republika, 2009)
- Hafalan Sholat Delisa (Penerbit Republika, 2005)
- Moga Bunda Disayang Allah (Penerbit Republika, 2005)
- The Gogons Series : James & Incridible Incodents (Gramedia Pustaka Umum, 2006)
- Bidadari – Bidadari Surga (Penerbit Republika, 2008)
- Sang Penandai (Penerbit Serambi, 2007)
- Rembulan Tenggelam di Wajahmu (Grafindo 2006 & Republika 2009)
- Mimpi-Mimpi Si Patah Hati (Penerbit AddPrint, 2005)
- Cintaku Antara Jakarta dan Kualal Lumpur (Penerbit AddPrint, 2006)
- Senja Bersama Rosie (Penerbit Grafindo, 2008)
- Eliana, Serial Anak-Anak Mamak
Tere Liye biasanya tidak menampilkan banyak biografi-nya pada
setaip karya-karyanya, begitupun di media Online, akan cukup sulit untuk
menemukan biografi lengkap Tere Liye. Sebuah kutipan menarik dari salah
satu pojok biografi Tere Liye:
Bekerja keras, namun selalu merasa cukup, mencintai
berbuat baik dan berbagi, senantiasa bersyukur dan berterima-kasih maka
tereliye percaya, sejatinya kita sudah menggenggam kebahagiaan hidup
ini. Sederhana memang, tapi sungguh pada pelaksanaannya tidaklah
sesederhana itu.
0 komentar:
Posting Komentar